Renungan Bersyukur
February 16th, 08 | Comments

Dapat dari teman di FS, dan ini sesuai sama dengan keadaan gw yang sekarang ini. Harus bersyukur

Aku bersyukur…

Mendengar anggota keluargaku ngomel-ngomel
dirumah,
berarti aku masih punya keluarga yang utuh

Merasa lelah dan pegal linu setiap sore, sebab itu
berarti aku mampu bekerja keras.

Membersihkan piring dan gelas kotor setelah
menerima
tamu dirumah, karena itu berarti aku dikelilingi
teman-teman.

Pakaianku terasa agak sempit, karena itu berarti
bahwa makanku cukup kenyang.

Mencuci dan menyetrika tumpukan baju, sebab itu
berarti aku memiliki pakaian.

Membersihkan halaman rumah, membersihkan jendela,
memperbaiki talang dan got, karena itu berarti
aku memiliki tempat tinggal.

Duduk kembali di kantor, berarti masih ada
perusahaan
yang mau memperkerjakan aku bahkan perusahaan masih
mampu membayar gaji setiap bulannya.

Mendengar nyanyian suara yang fals, karena itu
berarti aku bisa mendengar.

Mendengar bunyi jam alarm dipagi hari, sebab itu
berarti aku hidup.

Akhirnya… aku perlu bersyukur mendapatkan e-mail
ini, karena tidak sadar aku masih memiliki teman
yang
peduli padaku.

Memperbaiki adjustment sendiri
September 25th, 07 | Comments

Di dalam kehidupan sehari-hari motive tidak selalu dapat dipuaskan, sebab di lingkungan sekitar ada saja rintangan-rintangan yang menghalangi. Hal ini dapat berupa lapar, tidak memperoleh persetujuan orang lain, kejemuan dan sebagiannya. Bagaimanapun juga hal itu mesti dihadapi, problim mesti dipecahkan. Dengan perkataan lain, kita harus menyesuaikan diri atau adjustment.

Pada umumnya orang sependapat bahwa dua cara tersebut paling dulu adalah lebih baik dari pada cara-cara lainnya. Tetapi kemudian timbul pertanyaan manakah yang lebih baik, bertempur demi kepentingan hak atau bersikap kompromi demi perdamaian? Manakah yang lebih utama, menahan diri dan bersikap diam atau terjun berjuang? Dalam hal ini sudah barang tentu orang mungkin berbeda pendapat.

Memperbaiki adjustment sendiri:

Bagaimanakah orang yang tidak begitu yakin akan dirinya sendiri dapat memperbaiki kualitas adjustmentnya?
Berikut adalah patokan-patokan umum untuk hidup yang lebih efektif, yaitu:

1.memelihara kesehatan jasmani
Ada beberapa cacat kepribadian bersumber pada gangguan-gangguan fisik sehingga perlu untuk memeriksakan kesehatannya kepada dokter. Mencemasi rasa sakit dan keadaan yang tidak menyenangkan dapat merusak kualitas adjustment, sedangkan kesehatan jasmani yang buruk akan menurunkan semangat untuk hidup.

2.lakukanlah pekerjaan yang menyenangkan
Satu di antara kekuatan-kekuatan terbesar bagi kepribadian yang seimbang ialah perasaan puas dan lengkap yang berasal dari berhasilnya merampungkan pekerjaan yang penting. Cobalah merencanakan dan kemudian laksanakan tugas-tugas yang berguna bagi orang banyak dan menarik bagi diri sendiri.

3.beristirahat dan menghibur diri
Istirahat dan rekreasi itu bernilai karena beberapa alasan. Pertama, meningkatkan kesehatan jasmani.Kedua, melenyapkan perasaan-perasaan yang tidak diinginkan dan gagasan-gagasan yang menganggu. Ketiga, apabila pekerjaan untuk sementara waktu mengalami kesulitan, reaksi itu memberikan kepuasan untuk mengimbangi frustasi yang dijumpai dalam pekerjaan.

4.berpartisipasi di dalam masyarakat
Aktifitas sosial itu sama pentingnya dengan aktifitas individual. Orang yang berada di dalam suatu kelompok lupa akan kesulitan-kesulitan yang dialaminya dan menemukan kepuasan karena saling bertukar pikiran, bekerja sama dan sebagainya. Kecemasan sulit datang kepada orang yang menyukai dan disukai orang lain.

5.milikilah hubungan yang penuh kepercayaan dengan orang lain
Satu di antara cara-cara terbaik untuk mengurangi ketegangan adalah membicarakan dari perasaan takut dan malunya. Demikian pula apabila seseorang harus mempertanyakan masalahnya dengan pendapat orang lain, dia terpaksa mempertimbangkannya secara objektif. Peranan dari pendengar yang dapat dipercaya itu tidak hanya terbatas pada para dokter, psikiatrist dan psikolog. Orang tua, istri dan suami, alim ulama, guru, dan kawan dapat pula menjadi orang-orang kepercayaan yang dapat diajak berbicara.

6.buatlah rencana dan lakukanlah sesuatu terhadap setiap masalah
Respons-respons yang dahsyat dan beraneka ragam mempersulit diperolehnya pemecahan masalah. Tentu saja, kegiatan yang sembarangan saja tidaklah memadai.Orang harus mempergunakan obyektifitas dan pemahamannya.

7.bersikap obyektif
Orang yang bersikap obyektif tidak menutup mata terhadap kenyataan, keinginan-kenginannya tidak membutakannya. Karena itu dapat memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarnya untuk memuasakan dorongan-dorongannya dengan baik. Dengan jalan menaruh perhatian pada motive-motive dan perasaan-perasaan orang lain dapat berkompromi dengan lebih mudah dalam menghadapi persoalan-persoalan yang kecil-kecil demi dicapainya kerja sama dalam menangani hal-hal yang penting.

8.berusahalah mengerti dan memahami
Orang yang well-adjusted berusaha bersikap obyektif bukan saja terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap lingkungannya. Orang yang normal dapat menilai kemampuan dirinya agak lebih tepat. Dari sekian banyak dan macamnya segi-segi dan tujuan-tujuan hidup di dunia ini, dipilihnya hal-hal yang diperkirakan dapat dicapainya dengan bakat dan kemampuan yang ada padanya. Nilai-nilai dan standar kehidupan tidak diletakkannya begitu tinggi sehingga terancam oleh kemungkinan kegagalan, tidak pula diletakkannya begitu rendah sehingga hidupnya tidak memberikan tantangan. Orang semacam itu adalah orang yang realitis, tidak menutup-nutupi kekurangan-kekurangan dan kegagalan-kegagalan.

9.janganlah terlalu bersikap serius
Orang yang well-adjusted dapat mentertawakan dirinya sendiri, dapat melihat hal-hal yang aneh pada tingkah lakunya. Sebenarnya, semakin matang seseorang semakin kurang mentertawakan orang lain; hal ini bukan saja untuk menenggang perasaan tetapi juga karena dia menyadari bahwa dirinya sebenarnya kecil dan bukan apa-apa

10.hiduplah pada saat sekarang
Untuk adjustment yang baik orang perlu sekali hidup di dalam dan dengan situasi sebagaimana adanya serta mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam situasi tersebut. Mencemasi masa depan dan menyesali masa lalu tidak akan membantu seseorang memecahkan persoalan yang dihadapinya. Pada hakekatnya orang justru menghalangi adjustment sendiri. Orang harus belajar dari masa lampau dan membuat rencana untuk masa depan, tetapi hanyalah dalam hubungannya dengan kesukaran-kesukaran yang sekarang dihadapinya.

Kadang-kadang kesukaran-kesukaran seseorang begitu hebat atau disebabkan oleh penyakit yang demikian hebatnya; dalam keadaan seperti ini sudah barang tentu harus memperoleh pertolongan profesional untuk mengatasi kesukaran-kesukaran tersebut.

Bersumber dari buku “PSIKOLOGI Suatu Pengantar Edisi 1″ oleh Drs.M.Dimyanti Mahmud Fakultas Ilmu Pendidikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta, 1990.

Dampak Negatif dari Pertikaian OrangTua terhadap Emosional Anak
September 4th, 07 | Comments

BAGAIMANA PERSELISIHAN RUMAH TANGGA DAN PERCERAIAN DAPAT MERUGIKAN ANAK

Beberapa jenis perselisihan rumah tangga memiliki efek-efek yang mendalam terhadap kesehatan jasmani dan emosional anak-anak, dan juga terhadap kemampuan anak-anak untuk bergaul dengan teman-teman sebaya.

Anak-anak yang melihat ibu dan ayah mereka bersikap garang, bermusuhan, atau saling menghina besar kemungkinannya akan memeragakan tingkah laku semacam itu dalam hubungan-hubungan dengan teman-teman mereka. Tanpa adanya contoh-contoh peran untuk mengajar mereka bagaimana mendengarkan dengan empati dan menyelesaikan masalah secara gotong-royong, anak-anak mengikuti lakon yang telah diberikan orangtua mereka kepada meraka–lakon yang mengatakan bahwa permusuhan dan sikap bertahan merupakan tanggapan yang tepat terhadap perselisihan; bahwa orang yang galak mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.

Meskipun tentunya masuk akal bahwa anak-anak yang hidup dengan pengaruh negatif konflik orangtua itu belajar dari contohnya, yakin bahwa perselisihan rumah tangga barangkali memiliki pengaruh yang lebih mendalam dan lebih mendasar terhadap anak-anak–terutama bagi anak-anak yang terkena masalah-masalah keluarga yang berat sejak saat mereka amat kecil.Tekanan hidup karena konflik orangtua dapat mempengaruhi perkembangan sistem saram otonom seorang bayi, yang pada gilirannya menentukan kemampuan seorang anak untuk menghadapinya.

Tidak dapat disangkal bahwa anak-anak menjadi sedih bila mereka menyaksikan perkelahian orangtuanya.Studi-studi telah membuktikan bahwa bahkan anak-anak bereaksi terhadap perselisihan orang dewasa dengan mengalami perubahan fisiologi seperti meningkatnya detak jantung serta tekanan darah.

MELINDUNGI ANAK DARI PENGARUH-PENGARUH NEGATIF PERTIKAIAN RUMAH TANGGA

Dengan begitu banyak bukti bahwa anak-anak dapat dibahayakan oleh pertikaian ayah dan ibu mereka, sejumlah orangtua barangkali bertanya-tanya apakah sasaran mereka adalahh melarang segala bentuk perselisihan rumah tangga, atau sekurang-kurangnya menjaga agar pertengkarang-pertengkaran itu tidak dilihat oleh anak-anak. Bukan saja gagasan ini merupakan gagasan buruk, gagasan itu pun mustahil. Perselisihan dan amarah merupakan unsur-unsur wajar kehidupan perkawinan sehari-hari. Pasangan-pasangan mereka yang tak dapat dihindarkan itu da menjalani perbedaan-perbedaan tersebut akan memiliki hubungan-hubungan yang lebih bahagia dalam jangka panjangnya. Dan, sebagaimana orangtua yang menerima emosi-emosi negatif berada dalam posisi yang lebih baik untuk menolong anak-anak mereka mengatasi emosi-emosi mereka sendiri yaitu amarah, kesedihan, dan rasa takut.

Selain itu, studi-studi membuktikan bahwa anak-anak barangkali dapat menarik manfaat dari menyaksikan jenis-jenis tertentu perselisihan keluarga, terutama bila orangtua mereka tidak sepakat dengan cara yang penuh hormat dan bila jelas bahwa orangtua berusaha secara konstruktif untuk mencapai penyelesaian. Apabila anak-anak tidak pernah menyaksikan orang-orang dewasa dalam kehidupan mereka menjadi marah satu sama lain, tidak sepakat, dan kemudian menyelesaikan perbedaan-perbedaan mereka, mereka akan kehilangan pelajaran penting yang dapat menyumbangkan pada kecerdasan emosional.

Kuncinya adalah mengelola konflik dengan salah satu orangtua anak Anda sedemikian rupa sehingga tidakan itu dapat menjadi suatu contoh yang baik, bukannya pengalaman yang merugikan bagi anak tersebut. Jelaslah, ini lebih baik mudah dikatakan daripada dilakukan–terutama mengingat cara para orangtua tunggal (dan mantan pasangan hidup) mengobarkan emosi masing-masing. Namun, penelitian akhir-akhir ini memberikan sejumlah isyarat tentang bagaimana orangtua dapat saling berhubungan dengan cara yang melindungi dan bermanfaat bagi anak-anak mereka.

Bersumber dari buku “Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memilii Kecerdasan Emosional” oleh John Gottman, Ph.D. bersama Joan DeClaire.

Search
Archives
Pages
Categories
Meta
Visit the Site
www.flickr.com
eXTReMe Tracker