
Hari ini mendapat informasi dari orang tua, bahwa ada berita tentang kampus ISI Denpasar yang dimuat di koran harian KOMPAS pada tanggal 14 Agustus 2008, dengan judul “Kisruh di ISI Denpasar Tak Ganggu KBM” ternyata benar. Berikut isi dari berita tersebut berasal dari website Kompas.
Kamis, 14 Agustus 2008 | 14:32 WIB
DENPASAR, KAMIS- Kampus seni di Denpasar, Institut Seni Indonesia (ISI), berhadapan dengan permasalahan dalam pergantian rektor. Pemilihan yang telah dilangsungkan pada 5 Maret lalu itu dinyatakan tidak sah dan harus diulang pada 26 Agustus.
Pejabat Rektor ISI Denpasar Wayan Rai menganggap senat tidak memiliki keabsahan karena tidak mengantongi surat keputusan dari rektorat. Pengulangan juga didasarkan pada keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Namun senat ISI menggelar protes karena tidak dilibatkan dan tidak diperkenankan mendapat salinan surat keputusan menteri tersebut.
“Kami tetap bersurat minta kejelasan soal pengulangan pemilihan. Kami protes,” kata guru besar dan anggota senat Made Bandem.
Akan tetapi, ia berjanji kekacauan pergantian rektor ini tidak akan mengganggu kelangsungan belajar mengajar di ISI. Ia berharap para dosen dan mahasiswa pun tidak terganggu kreatifitasnya.
Protes ini diawali dengan melakukan keluar ruangan saat sidang senat ISI di kampus. Mereka yang menyatakan tidak setuju dan keluar dari ruangan diawali oleh Prof. Dibia, dan akhirnya secara berturut-turut diikuti oleh AA Oka Adnyana SST, Komang Sudirga MHum, Ida Ayu Trisnawati Msi, Wayan Suandi MSi, Prof. Sedana, Ketut Darsana MHum, Drs. Mugi Raharjo MSn, dan Drs. I Wayan Bagiartha.
Mereka pun menganggap sidang yang dipaksakan oleh Pejabat Rektor Wayan Rai, dengan sendirinya tidak quorum, dan tidak sah untuk mengambil keputusan apapun.
Memang sebelum pulang ke Jakarta setelah menamatkan kuliah disana, urusan dari kampus masih belum selesai dikarenakan ijasah belum keluar. Dikarenakan oleh sistem birokrasi yang berbelit-belit, lepas tanggung jawab, kalau ditanya kejelasannya soal ini itu selalu dilempar sana-sini sehingga urusan menjadi lama (sampai saat ini ijasah belum keluar dari wisuda tanggal 28 Juli 2008).
Memang sangat jarang kampus yang ada di Bali dengan demo mahasiswa maupun dari pihak lainnya tentang suatu ketidakbenaran yang ada, dikarenakan kurang adanya keberanian dan ketidakperdulian akan perkembangan lingkungan pendidikan dikampus, sehingga lambatnya perkembangan-perkembangan yang ada dibandingkan dengan kampus-kampus lainnya yang berada diluar Bali.
Semoga dengan adanya kejadian ini bisa adanya perubahan-perubahan yang meningkat demi perkembangan kampus ISI Denpasar sehingga Universitas/Institut ini bisa lebih maju lagi dengan Universitas/Institut lainnya yang ada di Indonesia.

